Ada dua versi sejarah Masjid Raya Baiturrahman. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun
masjid ini pada abad ke 13. Namun versi lain menyatakan Masjid
Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Namun yang pasti bahwa nama Baiturahman, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam di wilayah kesultanan Aceh Darussalam.
○Masa Penjajahan Belanda
 |
|
tradisional Indonesia dengan atap limat bersusun
|
Bangunan
sekarang bukan lagi bangunan zaman kesultanan. Pada masa kesultanan,
gaya arsitektur Baiturahman mirip masjid-masjid tua di Pulau Jawa.
Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat. Masjid pertama itu
dibakar Belanda tahun 1873 ketika masjid tersebut dijadikan pusat
kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Dan pada tahun 1873 itu terjadi pertempuran besar antara tentara Aceh dengan tentara Belanda yang menewaskan perwira tinggi Belanda, Mayor Jenderal Kohler. Pertempuran
di masjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler di bawah pohon
Geulempang di halaman masjid, di dekat salah satu gerbang masjid.
Pembakaran itu menambah kemarahan rakyat dan tentara Aceh kepada
Belanda. Kemudian menuntut dibikin baru. Empat tahun kemudian, mesjid
yang baru dibangun dengan satu kubah, berkonstruksi beton.
 |
Masjid Raya Baiturrahman sekitar tahun 1910-30
|
Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu,
G. J. van der Heijden. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda
keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan masjid sebagian didatangkan
dari Penang - Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam
untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu
dari Myanmar dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Pembangunan kembali masjid dengan satu kubah, selesai dan diresmikan pada 27 Desember 1883.Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh masjid ini kembali diperluas.
Seiring dengan semakin bertambahnya penduduk Banda Aceh dan untuk meredakan kemarahan rakyat Aceh maka
masjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian.
Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah.
Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nangroe Aceh Darussalam bergabung dengan Republik Indonesia.
 |
Kemegahan masjid Raya Baiturrahman masih kekar hingga kini
|
0 komentar:
Posting Komentar