Jangan Lupa "بسم الله الرحمن الرحيم" ...!!!

CERPENKU: Selamat Tinggal Penyesalan, Selamat Datang Kedamaian… coretan pena: el-hastha

Selamat Tinggal Penyesalan, Selamat Datang Kedamaian…
coretan pena: el-hastha


                Pagi ini tak seperti biasanya, hujan turun begitu deras sehingga membuatku terasa beku diselimuti dinginnya AC dikamarku, ditambahkan dengan sejuknya kawasan tempat tinggalku yang real-estate di dataran tinggi di Bandung. Namaku Devi Fitriani, aku adalah seorang siswi SMAN 1 Bandung, sebuah SMA ternama di Bandung, sekarang aku menduduki bangku terakhir di SMA-ku. Kriiing, jam beker yang berada di atas lemari kecilku berdering keras, kulihat jam menunjukkan pukul 5 pagi, bergegas kumatikan jam beker itu dan kulanjutkan lelapnya tidurku, karena hari itu bertepatan dengan hari weekend alias hari minggu jadi it’s time to sleep and malas-malasan.
                Tiba-tiba, suara ketukan pintu membangunku kembali dari tidurku, kulihat jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, betapa geramnya aku hingga ketukan itu sengaja aku hiraukan. Namun, makin lama ketukan itu semakin keras, hingga niat tidurku terpaksa menghilang. Aku bertanya dari dalam kamar, sengaja itu aku lakukan agar kalau ternyata hal yang membangunkanku itu tidak penting, maka aku akan kembali tidur. “Ada apa?” tanyaku. “Ada temen tu di ruang tamu, katanya dia kawan lama neng.” Jawab seorang wanita sentengah baya yang suaranya sangat aku ingat, ya, dia adalah pembantuku, namanya Soimah, biasa aku memanggilnya Bi Imah. Aku termenung sesaat sambil memikirkan kata Bi Imah, siapakah Dia? Ah, sepertinya tidak penting, paling-paling juga temen dari kampung. “Bilang kalau saya lagi tidak ada dirumah, bilang saja saya menginap di rumah nenek di Jakarta.” Kembali kurebahkan diriku keatas tempat tidur. Namun hatiku sepertinya merasa tidak nyaman, seperti ada hal yang menjanggal dalam hidupku. Bergegas ku menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku, niatku untuk bertemu seseorang yang misterius yang sempat datang kerumahku tadi.
                Kuturuni tangga satu-persatu, kutelusuri ruang tamu rumahku. Namun, tidak kutemukan seseorangpun disana. Bergegas kutemui pembantuku yang berada di dapur. “Kemana orang yang ingin bertemu dengan ku Bi?” tanyaku. “Dia udah pulang neng, tadi kan neng Devi sendiri yang nyuruh bi Imah buat bilang kalau Neng lagi nginap dirumah nenek neng Dei di Jakarta.” Yah, sia-sia dong perjuangan. Tapi, gak masalah palingan juga temen kampung atau temen sekolahku, gak penting!. Bergegas kutinggalkan dapur dan kembali menuju kamarku, jam dinding pun menunjukkan pukul 8 pagi. Oh iya, aku ingat kalau setiap minggu jam 8 sebuah stasiun TV menayangkan “Doraemon” Anime favoritku yang tidak pernah aku tinggalkan setiap Episode-nya bahkan komiknya-pun lengkap berjejer di lemariku.
                Kuhidupkan televisi yang berada dikamarku dan segera ku ganti siaran menuju siaran yang menayangan serial anime “Doraemon”. Namun, ada sebuah kejanggalan, bukannya station TV itu menayangkan serial anime favoritku melainkan “Sekilas Info”. Kuperhatikan berita apa yang disampaikan, sepertinya ini sebuah berita penting. Kudengarkan dengan serius “Seorang Pria yang diketahui bernama Andriansyah, warga Kota Tua – Jakarta Barat. Pria itu ditemukan tewas dengan keadaan menggenaskan karena tertabrak sebuah truk Kontainer yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi dari jalan yang berlawanan. Sopir truk mengaku sedang mengantuk ketika mengendarai truknya hingga menabrak korban. Sopir trukpun segera dibawa ke Kapolsek terdekat untuk dimintai keterangan lebih lanjut dan Korbanpun telah dibawa ke RS Fatmawati untuk Diotopsi.”
                Tiba-tiba, Kepalaku terasa nyeri dan perih sekali. Andriansyah! Aku kenal dia. Dia adalah seseorang yang telah berjasa dalam hidupku. Dialah yang telah menyelamatku dari Kecelakaan mengerikan sebulan yang lalu, saat itu aku sedang menginap dirumah nenekku. Dimana saat itu tubuhku nyaris hancur ditabrak sebuah mobil container namun dialah yang telah menyelamatku. Dialah yang telah mendorongku menjauh dari bahaya tersebut hingga maut-pun tak jadi menjemputku. Hanya luka lecet yang aku derita, berbeda jauh apabila truk itu menabrakku. Dialah yang membawaku ke rumah sakit dan dialah yang membiayai semuanya. Sehingga aku pun berkenalan dengannya dan kuberikan alamat rumahku yang berada di Bandung, aku berkata kepadanya agar tidak sungkan-sungkan ke rumahku ketika liburan nanti. Namun, nyatanya apa yang telah hari ini kulakukan! Dia telah pergi untuk selamanya dari hidupku menyisakan penyesalan yang begitu menyiksa batinku. Seseorang yang telah rela menolongku dari Maut yang nyaris menjemputku, hanya aku hiraukan bagaikan orang miskin yang sedang mengemis didepan rumahku. Hati ini rasanya tercabik-cabik oleh pisau penyesalan milikku sendiri. Aku bagaikan manusia hina yang tak tau balas budi bahkan lebih hina daripada binatang. Penyesalan kini tlah menyelimuti dan membunuh tubuh ini.
                Ku ambil selimut diatas tempat tidurku dan kuikat dengan Sprai tempat tidurku, hingga memanjang membentuk seutas tali. Praak, seutas tali yang kubuat itu kini tlah mengantarku menuju ajal-ku, menghapus segala penyesalan pilu dalam hatiku, kesombongan yang tlah mengantarkan dalam tragisnya hidupku, hanya cari ini yang dapat aku lakukan untuk menghapus segala kesalahanku. Selamat Tinggal Penyesalan, Selamat Datang Kedamaian.

0 komentar:

Posting Komentar