Berjalan menelusuri pantai, mendengar desiran ombak yang begitu indah, ditambah dengan hamparan lautan yang biru melukis keindahan sore ini. Handphone-ku bergetar, kulihat dua pesan masuk yang pertama dari Ibuku dan yang kedua dari Selly-pacarku. Kubaca sms dari Ibu, "Aslmkm Wr. Wb. Andi, nanti pulang tolong belikan ibu nasi goreng ya. Ibu ingin sekali nasi goreng. Tapi, kalau tidak sempat tidak apa-apa, Nak. Terima kasih. Wassalam.". Kubaca sms yang kedua dari Selly, "Say, aku laper ni. Makan yuuk... Jmput aku yahh. :* ...". Kubuka dompetku dan kulihat sisa uang cuma tinggal 100 Ribu, itupun aku harus isi bensin mobilku 50 ribu. Otakku sedikit terkuras, keringat membasahi tubuhku, ditambah panasnya terik matahari yang membakar seluruh tubuhku. Bergegas aku menuju parkiran untuk segera berangkat menuju rumah Selly. "Toh, kalaupun Ibu tidak aku belikan nasi goreng juga tidak masalah, Ibu kan masih bisa makan makanan yang lain dirumah." kataku dalam hati. Mobilku pun melaju kencang kerumah Selly.
"Say, aku udah didepan rumah kamu ni... Jangan lama donk make up-nya, bisa jadi sapi panggang ni kepanasan... :D..." Kukirim SMS itu ke Selly. Tak lama HP-ku berdering, kubaca balasan dari Selly, "Sabar donk, say... :*..". Tak lama kemudian Selly-pun keluar dari rumah dengan dandanan Super Metropolitan, dengan style serba putih-hitam yang selalu dia gunakan saat kami jalan kemanapun, alasannya karena itu warna favoritnya. Selly-pun masuk kedalam mobil Alphard-ku yang lumayan mewah dalam kalangan mobil para remaja. Kutancapkan gas menuju tempat makan favorit kami.
Union Cafe, termasuk cafe termewah didaerah Bandung. Itulah nama cafe favorit aku dan Selly. Awalnya ini bukanlah tempat spesial bagiku namun karena Selly sering mengajakku bertemu dengan temannya disini, lama-kelamaan ini menjadi tempat favorit kami. Ketika aku sedang asyik makan, Tiba-tiba HP-ku bergetar. Ternyata, SMS dari ibu, "Nak, sudah malam kok belum pulang? Ada Rapat di kantor ya?." Selly memandangiku dan bertanya SMS dari siapa, aku hanya tersenyum dan kukatakan hanya SMS dari teman lama. Aku terpaksa berbohong, agar aku tidak dianggap cowok cupu yang gak bisa keluar malem. Jam tanganku menunjukkan pukul 8 malam, biasanya aku tak pernah pulang semalam ini, kecuali karena ada meeting di Kantor dan juga karena ibu akan sibuk meng-SMS-ku kalau aku pulang lebih dari jam 6 malam, menurutku itu dapat mengganggu konsentrasiku dalam segala hal, termasuk ketika aku sedang jalan sama Selly.
Kupandangi sekeliling rumah, sepertinya sepi karena biasanya ibu akan menungguku pulang diteras rumah. Lalu, kKubuka pintu rumah dan kudengar alunan ayat suci Al Qur'an, ternyata ibu sedang mengaji dikamarnya. Namun, mendengar suara pintu terbuka, dia keluar dan bertanya,"Darimana saja nak? Mengapa baru pulang jam segini? Rapat lagi?". Dengan nada marah, aku menjawab, "Ibu kenapa cerewat sekali! Andi capek, Bu! Kenapa Ibu selalu berlebihan mengurus aku Bu! Aku sudah besar, Aku sudah bisa urus diriku sendiri!... Kalau mau nasi goreng ini da duit 10 ribu, beli sendiri...!".
Terduduk Ibu di lantai rumah memandangi langit-langit seakan tak percaya bahwa darah dagingnya tega mengeluarkan kata-kata sesakit itu. Seakan guntur menyambarnya, Jantungnya terasa sakit sekali seperti tertusuk belati, tetesan air mata membasahi pipinya, tubuhnya nyaris lumpuh tak berdaya. Dengan tangan masih menggenggam diletakkannya diatas dada, Ibu masuk ke dalam kamar, terduduk ia di atas ranjang menangis dan terus menangis, nafasnya terengah-engah seakan Malaikat Maut telah bersiap menjemputnya. Diambilnya secarik kertas dan sebuah bolpoin untuk melukis seberapa perih hatinya, tetesan air mata jatuh membasahi seluruh batinnya...
Aku hanya tidur telentang memandangi langit-langit rumah, penyesalan melumuri seluruh batinku. Ibu, satu-satunya orang yang aku sayang, kini tlah aku hancurkan hatinya. Begitu hinanya diriku, bahkan lebih hina dari binatang yang tak tau balas budi terhadap orang tua. Penyesalanku pun takkan pernah bisa menarik kembali perkataan yang tlah menyayat hati Ibu. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan terus menangis serta berdoa Ibu akan memaafkanku. Terlelaplah aku dalam tidurku...
"IBU....!!!" teriakanku memecahkan keheningan malam yang gelap gulita. Keringat bercucur deras dari tubuhku, air mata berderai. Aku terduduk dipinggir ranjang, menatapi seisi kamarku seperti orang gila yang tak tau arah dan tujuan. Mimpi itu buruk sekali, mimpi yang aku alami tadi, itu tidak mungkin terjadi!. Aku didatangi seekor merpati dan merpati tersebut memberiku sepucuk surat. Surat tersebut dari Ibu...
Segera aku bergegas menuju kekamarnya... Kulihat Ibu tertidur di meja sambil memegang sebuah bolpoin diatas sebuah surat dengan tinta yang sedikit memuai seperti terkena air... Kupandangi raut wajah ibu, kelopak matanya membengkak, bekasan air mata yang kering tergambar dipipinya, tangan kanannya memegang sebuah bolpoin dan tangan kirinya terkulai lemas... "Ibu... Ibu...", teriakku, "Maafin Andi ya, sekarang Ibu tidur yang baik ya, lupakan hal itu, Bu...", kuangkat tubuh ibu, dan kurebahkan tubuhnya keatas tempat tidur, kututupi tubuhnya dengan selimut, "Sekali lagi, Maafin Andi yaa Bu... Andi sayang Ibu... Tadi Andi khilaf, Bu.". Tiba-tiba, mataku tertuju pada surat itu, surat untuk siapa yang Ibu buat, mungkin untuk sanak saudara di kampung, namun kenapa surat itu dipenuhi tetesan air mata??? Pertanyaan-pertanyaan itu yang memberanikan ku untuk melihat surat itu..... Kulihat coretan pena Ibu seraya kubaca...
Untuk: ANDI, Anak Ibu satu-satunya yang Ibu sayangi...
Maafin Ibu ya...Karena Ibu sudah membuat kamu marah...Ibu lupa kalau kamu kecape-an kerja...
Karena Ibu ingin sekali makan Nasi Goreng untuk yang terakhir kalinya sama kamu...Ingatkan waktu kita terakhir kali makan Nasi Goreng sama Ayah sebelum Ayah pergi...Ibu juga Ingin seperti itu, Seperti saat-saat terakhir Ayah disini...
Maafin Ibu juga ya...Karena Ibu terlalu cerewet...Sampai kamu tidak boleh keluar malam dan sering SMS kamu...Ibu sadar kok kalau itu tidak pantas buat kamu...Sebenarnya, Ibu cuma ingin kamu ada disisi Ibu sebelum Ibu ditemani Ayah disana nanti...
Ibu sayang Kamu, Nak!Ibu lakuin semua itu karena Ibu sayang sama Andi...Andi cuma satu-satu orang yang bisa membuat Ibu bahagia...Ibu selalu tersenyum melihat foto-foto Andi dahulu...Ingatkan waktu terakhir kali kita ke pantai Ancol sama Ayah...Waktu itu kamu menangis karena takut mendengar suara ombak...
Sebenarnya masih banyak yang ingin Ibu ceritakan...Namun karena Malaikat Maut tidak lama lagi akan menjemput Ibu...Ini saja yang ingin Ibu ceritakan...Nanti saja kita sambung ceritanya disuatu tempat nanti...
Ibu pergi dulu ya...Jaga diri kamu baik-baik...Jangan lupa Shalat dan ngaji...
Masalah tadi, Ibu sudah memaafkannya Lahir dan Bathin...Ibu ngerti kok, itupun karena salah Ibu...
Sampai jumpa anakku...
Ibu tunggu disini ya, Ibu sudah buat Nasi Goreng Spesial untuk kamu...Ibu Sayang Kamu, Andi...Dari: IBU, seseorang yang akan terus mencintai kamu...
Tak terasa deraian air mata membasahi pipiku, terdudukku disamping jasad Ibu yang tlah terbujur kaku, luka itu seakan telah mengiris dan merobek-robek hatiku, peneyesalan dan kehampaan yang aku rasakan. Kini, IBU tlah pergi untuk selama-selamanya dan takkan pernah kembali. Anugerah terindah yang tlah Tuhan berikan tlah aku campakkan seperti sampah yang busuk. Aku hanya bisa menangis meratapi segala kesalahanku... "Ibu, andaikan waktu dapat kembali ke masa itu takkan pernah ku sia-siakan dirimu... AKU SAYANG IBU..."....
ElHastha 01:25 120212